Pandangan Islam Mengenai Asuransi

Keyakinan kita sebagai muslim adalah bahwa dalam dunia ini segala sesuatu terjadi berdasarkan atas kehendak Allah subhanahu wa ta’ala (SWT). Dengan demikian, setiap kecelakaan dan ketidakberuntungan yang menimpa kita adalah dengan kehendak Allah SWT.  Namun, keyakinan ini seharusnya tidak diinterpretasikan bahwa orang seharusnya tidak merencanakan atau mengerjakan apa pun yang mereka dapat pertangungjawabkan dan menyediakan sesuatu untuk keperluan-keperluan mereka.

“Serahkan itu kepada Allah” sebagaimana sebagian orang katakan, tidak berarti kita tidak seharusnya bersiap-bersiap dan berusaha.  Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, tetapi kita harus merencanakan untuk itu. Apa yang sangat penting untuk kita ketahui adalah bahwa apapun perencanaan dan persiapan yang kita kerjakan harus dikerjakan berdasarkan syariah. Dan syariah telah mengajarkan bahwa ketika harus menerima apapun “ketidakberuntungan” yang menimpa kita, kita juga perlu untuk menghindari atau mengurangi kemungkinan dan/atau akibat-akibat dari “ketidakberuntungan” tersebut dengan mengambil langkah-langkah yang positif.

Anas ibn Malik menceritakan bahwa suatu hari orang Baduwi datang kepada Rasulullah salallahu alaihi wasallam (SAW) di atas unta dan bertanya kepada beliau: “Bolehkan saya meninggalkan unta sendirian (tanpa mengikatnya) dan serahkan/tawakkal kepada Allah?”. Rasulullah SAW menjawab: “Ikat untamu terlebih dahulu kemudian serahkan/tawakkal kepada Allah” (H.R. Tirmidhi).  Disini dapat kita lihat bahwa Rasulullah SAW telah mengajarkan manusia untuk mengurangi risiko kehilangan untanya. Imam ibn Rajab berkata: “Kamu seharusnya tahu bahwa berserah diri/tawakkal kepada Allah tidak berarti tidak melakukan usaha-usaha yang diperlukan untuk menjaga sesuatu. Ini adalah Sunah Allah dan Hukum Allah dalam kehidupan ini”.

Hal-hal serupa dalam banyak perilaku Nabi SAW, kita dapat lihat bahwa kapan pun memungkinkan beliau senantiasa mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengurangi risiko, walaupun beliau dapat melakukan hal yang sebaliknya jika beliau menghendakinya. Sebagai contoh, dalam Hijrah, beliau pergi bersembunyi dalam gua terlebih dahulu daripada langsung pergi ke Madinah. Beliau menyuruh pengikut-pengikutnya untuk pindah ke Madinah dengan kelompok-kelompok kecil daripada sekaligus dalam satu kelompok besar.  Ini adalah untuk mengurangi risiko. Ketika beliau pergi berperang, beliau menggunakan baju besi (armor) daripada memakai pakaian biasanya.

Dalam dunia modern ini, satu dari cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko kehilangan akibat kecelakaan atau ketidakberuntungan adalah melalui asuransi.  Tetapi jenis asuransi apa yang boleh digunakan oleh Muslim? Dewasa ini, terdapat dua jenis asuransi: asuransi komersial dan asuransi kerjasama/takaful.

1. Asuransi komersial (commercial insurance)

Asuransi telah menjadi subyek diskusi dan penelitian oleh para ulama.  Kesimpulan dari mayoritas para ulama adalah bahwa asuransi adalah dilarang atau haram.

Sejak Badan Fatwa Nasional Malaysia menyatakan bahwa asuransi adalah praktek haram atau Fasid pada tahun 1972, banyak pertemuan dan konferensi organisasi/badan lain di Libya (1973), di Mekah (1976 dan 1977) dan yang lebih baru pada tahun 1985. Selain itu, banyak ulama telah mempublikasikan persetujuan dan fatwa mereka pada subyek tersebut dalam kapasitas yang beragam. Seluruh studi tersebut melarang keterlibatan dalam  asuransi komersial versi saat ini, karena hal itu mengandung unsur-unsur gharar, maisir, dan riba.

Gharar

Menurut para ulama, gharar didefinisikan sebagai sebuah kontrak yang hasil-hasilnya tidak diketahui atau tersembunyi, atau satu dari dua kemungkinan dimana kejadian yang sering adalah satu yang lebih ditakuti atau tidak diinginkan. Kontrak asuransi adalah satu kontrak yang persertanya membayar premi dan lembaga asuransi menyediakan kompensasi yang tidak diketahui pada waktu persetujuan kontrak, berapa akhirnya harus membayar pihak satu terhadap yang lainnya. Dengan demikian ada unsur gharar yang menghilangkan validitas kontrak tersebut.  Al-Qur’anul Karim mengatakan: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (Q.S. An-Nisaa’: 29).

Maisir

Maisir adalah sebuah bentuk dari judi. Itu adalah mengenai memperoleh something for nothing, atau menerima keuntungan tanpa bekerja untuk itu. Nabi SAW melarang segala bentuk usaha yang berurusan dengan perolehan uang yang berasal dari spekulasi, dan bukan dari bekerja. Sederhananya, kontrak asuransi disetarakan dengan judi; jika bahaya terjadi, lembaga asuransi (pengasuransi) akan rugi.  Di sisi yang lain, jika bahaya tidak terjadi, peserta asuransi (yang diasuransi) akan rugi. Dewasa ini, perusahaan asuransi merupakan pemenang dalam kebanyakan kasus. Perusahaan- perusahaan asuransi bekerja bergantung pada statistik dan pengalaman masa lalu untuk menentukan biaya untuk menjamin sebuah risiko yang tidak diketahui sambil membuat profit yang besar.

Riba

Satu dari bentuk-bentuk yang jelas yang berurusan dengan riba adalah memberikan atau menerima bunga uang (interest). Bunga uang apakah berdasarkan pokok atau keterlambatan pembayaran adalah riba.

Bentuk lain dari riba adalah pertukaran “unsur-unsur riba” yang terdapat perbedaan dalam waktu dan/atau jumlah. Jenis utama dari unsur-unsur riba yang disebutkan oleh Nabi SAW adalah emas untuk emas, perak untuk perak. Dengan menganalogikan, uang mirip dengan emas dan perak yang itu merupakan media pertukaran. Dengan demikian, uang adalah unsur riba dan dalam kontrak pertukaran antara pengasuransi dan yang diasuransi terdapat perbedaan dalam jumlah dan waktu. Sehingga, orang dapat dengan mudah melihat bahwa kedua jenis riba tersebut terdapat dalam asuransi komersial.

Asuransi tersebut bergantung pada riba untuk profitnya. Riba terdapat dalam setiap tahap bisnis tersebut, dari perhitungan premi sampai pembayaran benefit kepada peserta asuransi yang menderita kerugian.  Selain itu, para ulama berpendapat bahwa perusahaan asuransi memberikan pinjaman dan mengambil bunga dari hal tersebut, dan ini adalah riba.

Ini adalah isu-isu utama yang menjadikan asuransi komersial menjadi haram bagi Muslim untuk terlibat di dalamnya. Namun, hal yang perlu diperhatikan bahwa para ulama juga telah menyatakan kondisi-kondisi tertentu yang membolehkan orang untuk membeli asuransi.  Keadaan darurat atau perlu adalah salah satu dari kasus ini. Hal yang sangat direkomendasikan bahwa seseorang mengkonsultasikan dengan ulama sebelum membeli asuransi untuk “kondisi-kondisi yang diizinkan” dan kondisi tersebut hanya dapat ditentukan oleh para ulama yang kompeten untuk itu (qualified scholars).

2. Asuransi kerjasama (cooperative insurance)

Satu solusi yang telah disampaikan oleh banyak ulama adalah saran bahwa prinsip takaful adalah dasar asuransi Islami, yang disebut asuransi kerjasama atau takaful. Takaful berasal dari kata Kafala yang merarti jaminan. Itu juga berarti Ta’awun atau jaminan yang saling menguntungkan (mutual insurance). Jadi Takaful berarti jaminan, bantuan dan perlindungan yang saling menguntungkan.

Di bawah prinsip ini, peserta-peserta asuransi memberikan uang mereka kepada perusahaan dengan basis sumbangan atau Tabarru’ dengan permintaan bahwa perusahaan tersebut akan mengkompensasi mereka dengan jumlah yang seharusnya mereka bayar akibat sebuah kecelakaan misalnya.  Mereka meminta bahwa perusahaan harus tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan haram seperi riba, judi, minuman keras dan sejenisnya.

Perbedaan utama antara asuransi komersial konvensional dan asuransi kerjasama/takaful adalah bahwa dalam asuransi konvensional,  kerugian-kerugian diperkirakan di depan dan tidak ditanggung bersama (shared) oleh anggota-anggotanya.  Dalam takaful, kerugian-kerugian ditanggung bersama oleh para anggota ketika hal itu terjadi dan tidak diestimasi di depan. Dengan kata lain, setiap anggota adalah pengasuransi dan yang diasuransi.

Asuransi takaful adalah sebuah kolektif, organisasi berbasis masyarakat yang dirancang untuk menghilangkan beban yang berat kerugian-kerugian individu dengan menanggung bersama risiko.  Tidak ada risiko yang dipindahkan dari satu kepada yang lain dan tidak ada eksploitasi, atau pengkayaan satu orang pada pengeluaran yang lain. Jika sebagian uang dinvestasikan untuk menghasilkan keuntungan/profit, seluruh keuntungan dan kerugian dibagi/ditangung bersama oleh para anggota. Muslim mempunyai kesempatan melalui takaful dalam memenuhi keperluan mereka dan menyediakan alternatif terhadap sebuah sistem yang tidak adil.  Namun, harus diingat asuransi takaful yang diperbolehkan adalah bukan berdasarkan namanya, tetapi berdasarkan prinsip dan operasionalnya.

(Disarikan dari: The Islamic Rule Concerning Insurance, Al-Jumuah, Vol. 11, No. 12, Dzulhijjah 1420 H.)

***