Guru Besar IPB Kembangkan Teknologi Penyamak Kulit Ramah Lingkungan

Jumat, 15 September 2017, 17:59 WIB

Bogor (Antara Megapolitan) – Kulit hewan segar merupakan hasil samping industri daging dan dapat diolah untuk berbagai keperluan, seperti untuk bahan baku kulit samak, gelatin, perekat, keperluan medis, dan sebagai bahan pangan.

Selama periode tahun 2012-2016, industri barang dari kulit dan alas kaki mengalami peningkatan ekspor sebesar 6,83 persen. Namun, pada periode yang sama, Indonesia juga mengimpor kulit dan produk-produk olahannya senilai 0,97-1,14 milyar dolar per tahun dengan laju peningkatan 3,12 persen.

Guru Besar Tetap Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Ono Suparno, S.TP, MT dalam jumpa pers Pra Orasi Ilmiah di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor (14/9), menyampaikan temuannya tentang teknologi pengolahan kulit produktif dan ramah lingkungan menuju pembangunan industri yang maju dan berkelanjutan.

Menurutnya, proses penyamakan kulit, khususnya penyamakan kulit samoa (chamois leather) memerlukan waktu yang lama. Kulit samoa merupakan kulit ternak kecil (sebangsa rusa) yang disamak dengan minyak dan diamplas bagian daging dan rajahnya.

Kulit ini memiliki fungsi spesifik sebagai filter minyak bermutu tinggi, alat pembersih optik, pembersih jendela, badan mobil, kacamata dan penggunaan lainnya. Kulit samoa merupakan kulit hasil samak yang populer di ranah perdagangan kulit.

Oleh karena itu, teknologi penyamakan kulit yang produktif dan ramah lingkungan perlu dikembangkan dan diterapkan untuk mewujudkan pembangunan industri yang maju dan berkelanjutan.

”Upaya untuk meningkatkan produktivitas dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu dengan menurunkan waktu proses produksi, mengoptimumkan bahan baku, dan menurunkan jumlah limbah atau hasil samping,” ujarnya.

Upaya dalam mempersingkat proses produksi penyamakan kulit samoa, Prof. Ono Suparno melakukan rekayasa proses percepatan penyamakan kulit. Rekayasa ini menggunakan bahan pengoksidasi natrium perkarbonat, hidrogen peroksida, dan natrium hipoklorit (NaClO). Kombinasi perlakuan terbaik adalah menggunakan oksidator natrium hipoklorit dengan konsentrasi 2 persen. Melalui rekayasa ini, proses penyamakan kulit samoa dapat diselesaikan dalam dua hari, padahal secara normal proses penyamakan kulit samoa dapat mencapai 9-12 hari.

Prof. Ono menyebutkan bahwa upaya mengoptimumkan bahan baku penyamakan kulit dan meminimalkan limbah dapat dilakukan melalui peningkatan fiksasi krom pada kulit dan penurunan dosis krom melalui penyamakan kombinasi.

Penyamakan krom dapat disubtitusi dengan penyamakan kombinasi nabati-aldehida dan naftol-aldehida. Minyak biji karet dapat digunakan sebagai pengganti minyak ikan dalam produksi kulit samoa.

Manajemen yang efektif terhadap restricted chemicals dalam produksi kulit samak merujuk pada Restricted substance list (RSL) yang terdiri atas product restricted substance list (PRSL) dan material restricted substance list (MRSL).

”Melalui teknologi ini, dosis krom dapat ditekan sampai lima persen,” tambah Prof. Ono. (RA/NM).

Sumber: http://megapolitan.antaranews.com/berita/32568/guru-besar-ipb-kembangkan-teknologi-penyamak-kulit-ramah-lingkungan

***